Jeda dan Luka

Apa yang telah terucap mungkin bisa menjadi penanda, tetapi dengan yang dibenak masih sebatas rangkaian kata. Aksara memang mudah digunakan untuk menyampaikan beberapa rasa, tapi ada juga beberapa rasa yang sukar untuk dicitrakan. Seperti jeda dan luka, yang masih sulit untuk disampaikan.
Jeda suka meminta waktu, untuk kembali memikirkan kembali langkah yang sudah ditempuh. Tidak ada yang tahu seberapa lama pastinya. Kau tak percaya ? Kalau begitu ayo kita mulai. Jeda.
Sudahkah kau percaya ? Atau kau mulai terluka ? Jeda terlalu lama memang bisa menimbulkan luka, seperti luka karena ditinggalkan atau yang lebih parahnya luka karena dilupakan. Lalu, bagaimana dengan jeda yang begitu singkat ? Bagiku itu juga menghasilkan luka, kenapa ? Kalau begitu cepat, apa yang sedang kau jedakan ? Jeda hadir sebagai peminta waktu untuk berpikir, baik itu untuk terus menjalankan, memperbaiki apa yang sudah ada, atau justru mengakhiri praduga-praduga yang telah ada.
Lalu luka, suka hadir dan juga terkadang penghasil jeda. Untuk mengobati yang terluka memanglah butuh waktu, jeda. Luka yang dibiarkan begitu saja akan mengering, tinggal apa yang kau inginkan seperti apa luka itu. Berbekas atau sembuh seutuhnya ? Memang benar, bentuk pendewasaan diri salah satunya ialah dengan belajar dari luka, karena luka punya ceritanya masing-masing. Bekal masa yang akan datang agar sebisa mungkin tidak terluka lagi, atau sebagai tolak agar jika ingin terluka, bisa terluka dengan cara-cara yang belum pernah dicoba.
Jeda dan luka memang punya cerita sendiri, lalu bagaimana dengan mu ? Cerita-ceritamu, aku ingin mendengarnya. Aku ingin lagi lebih jauh mengenalmu, agar aku tidak menjadi jeda dan luka baru bagimu. Bagaimana dengan esok jumat ? Atau senin mendatang ? Pastinya aku akan menantinya, walau dengan menanti, kau menjadi sebuah jeda baru bagiku, semoga kau tak juga menjadi luka baru bagiku.

Komentar

Postingan Populer