Surat Terbuka Untukmu
Ingat kah kau ? Kala kita duduk berdua menikmati senja dengan lukisan senyum diwajahmu dan diriku yang hanya berani menatap deru ombak yang menabrak karang di depan kita, sambil sesekali aku mencuri senyum itu. Sudah lama sekali bukan ? Mengingatnya saja aku butuh usaha, bagaimana denganmu ?
Batas dan jarak yang kini ada hanyalah kita yang menciptakannya, bukan karena kebutuhan ataupun memang sebuah tuntutan. Tidak ada batas kota dalam lingkup kita, bahkan patung selamat datang kita pun masih sama, namun naif bagi kita untuk mengakuinya bukan ?
Apa kabarmu ? Bagaimana hari-harimu ? Apakah senyum dikala itu masih ada padamu, jikalau ada ijinkan aku untuk bisa melihatnya lagi. Terlalu jauh untuk bisa berharap seperti dahulu lagi, yang aku inginkan sekarang hanyalah bisa bertegur sapa denganmu, sekedar bertukar isi hati yang sudah lama tidak kita tuangkan.
Komentar
Posting Komentar