Absensi Hati
Mengkritisi apa yang kini terjadi, dengan pola pikir liar yang kian menjadi. Coba lupakan diri untuk sekedar melampaui mimpi, dan beraharap bangun dengan semua harap terlengkapi.
Kamu adalah angan, tujuan tanpa kejelasan. Arti seperti buta makna, penjelasan yang dinanti juga tidak kunjung adanya. Kau tak lepas seperti pena, menggores kertas untuk sekedar melukai lalu kau tinggal begitu saja.
Absensi hati, kau isi dengan pengharapan tentang mati. Sekalian saja kau tikam aku sedari awal. Atau kau memanglah psikopat, suka membunuh dengan cara senyap dan bertahap. Berharap aku termakan umpan dan menikmati ketersiksaan ku yang perlahan mendekat, mungkin cepat.
Tidak ada hentinya jika yang kau minta tentang umpatan, ah, persetanlah sudah dengan yang telah kau isi dihati. Jika bisa ku muntahkan, pastilah sudah kulakukan. Hanya mencoba untuk tetap sadar dengan apa yang sudah terjadi, katanya biar tidak terjatuh dengan kesalahan kembali. Absensi yang kau coret tidaklah bukan hanya seperti coretan tanpa arti, sekedar pembelajaran bahwa aku masih bisa menilai keberhargaan makna garis.
Komentar
Posting Komentar