Mama
Ma, anakmu sekarang sudah besar.
Suka menjelajahi dunia hingga terkadang lupa adanya rumah, namun dirimu tidak lelah untuk menjelaskan apa makna dari kata pulang. Sapamu disetiap saat aku tidak merasa sok sibuk, selalu mencambuk diri ini untuk selalu bisa melakukan apa yang terbaik. Sebab katamu jangan pernah menyesali apa yang kita perbuat, melainkan apa yang sebenarnya kita bisa lakukan, tetapi diam yang akhirnya kita pilih.
Ma, anakmu sekarang sudah besar.
Aku selalu mengejar mimpiku, mencapai segala keinginanku, walau terkadang kemalasan sering membuaiku. Aku aktif dalam pelajaran kehidupan, meski terkadang nilainya tidak selalu bagus, namun kau sudah mengajarkanku hidup bukan tentang penyesalan. Menata kehidupan memanglah tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi hidup didalam keadaan yang tidak diperkirakan. Seperti masa itu, dimana titik kehidupan kita seketika berubah, tak habis pikir.
Ma, anakmu sekarang sudah besar.
Sekarang aku sudah bisa mengontrol emosiku, walau terkadang sesekali naik dengan tiba-tiba. Dulu hal sesederhana seperti merasa dipelototin dan intonasi suara yang tidak enak didengar, pasti berujung dengan adu pukul. Kau masih ingat bukan waktu itu aku pernah pulang dengan lebam dimata kiri ku. Ujarmu semua masalah bisa diselesaikan dengan berbincang, mulai saat itu aku selalu mecoba berbicara dengan egoku.
Ma, anakmu sekarang sudah besar.
Kini aku sadar aku tidaklah sama seperti yang dulu. Menginjakkan kaki dengan umur dua puluh tahun lebih dua terasa seperti sangatlah tua. Sekarang untuk menonton kartun saja aku mencoba untuk mencuri-curi waktu dikala kesendirian, mencoba menghindari obrolan tak penting dan antusias dengan perbincangan tentang hidup. Walau tidak sedikit seperti hanya omong kosong, karena yang dibicarakan kebanyakan tentang masa nanti, sedangkan kita tidaklah lain sekumpulan orang-orang yang juga baru belajar tentang hidup.
Ma, anakmu sudah besar.
Ma, aku rindu.
Komentar
Posting Komentar