Mentari, Hujan dan Pelangi

Mentari, hujan dan pelangi, mungkin tidak ada korelasi yang baku diantara mereka. Tetapi kau dan aku sama-sama tahu tentang cerita yang terjadi didalamnya.
Kau dulu bertanya, mengapa Tuhan menciptakan mentari yang begitu panas tetapi juga mengharuskan dia bisa menerima kedatangan hujan untuk membasuh panasnya. Lalu, mengapa Tuhan juga menciptakan pelangi untuk mengakhiri apa yang telah dilakukan oleh hujan. "Kemanakah semua air  yang jatuh ini akan mengalir ? Bukankah laut terlalu jauh untuk dicapai ?" katamu dipenghantar hujan menuju warna-warni pelangi. 
Aku juga masih ingat tentang kesukaanmu terhadap aroma yang dihasilkan mentari dipagi hari, ketika ia memaksa basah embun untuk kembali mengudara, kau bilang aroma itu seperti aroma yang dulu sering kau hirup sebelum hiruk pikuk dunia memaksa kita untuk menjadi seorang manusia. Aroma itu kau suka, bahkan ketika kita sedang berkendara tak lupa kau meminta untuk menepi sejenak, menikmati alam katamu. Namun diantara semua kecintaanmu terhadap mentari, ada satu yang sukar untuk kau terima, yaitu terik, katamu terik ini tidak sama seperti yang dulu, kini terik seakan hadir untuk menyiksa kita akan perbuatan kita yang terlalu manusia, tidak seperti dulu, yang kita masih suka menjadi bagian dari alam.
Rintik hujan juga selalu mengantarmu kedalam suatu cerita, tak sedikit cerita yang kau sampaikan ketika kita berteduh darinya, bahkan bisa dikatakan aku mengenalmu oleh bantuannya. Cerita tentang pencapaianmu, waktu sekolah dasar dulu kamu pernah menjuarai kejuaraan sains dan sampai jenjang-jenjang berikutnya kamu masih sering dijadikan perwakilan andalan dari sekolahmu. Tentang kamu yang dulu sering jadi primadona sekolah bahkan sampai dibenci oleh kaummu sendiri karena kamu berbeda dari mereka, kalau kata kamus, kamu adalah kata "sempurna". Tapi apa yang sempurna pasti juga punya cerita sedih didalamnya, yang mungkin tidak pernah didengar oleh orang lain.
Perihal awal dan akhir, kau selalu penasaran dengan yang dimiliki oleh pelangi. "Apakah awal dari pelangi sama dengan awal hujan meneteskan airnya dan akhir dari pelangi merupakan tempat terakhir tetesan itu membasahi ?" Selain itu kau selelu penasaran tentang warnanya, walau penjelasan ilmiah tentang spektrum cahaya sudah cukup mudah untuk diakses, tetapi itu semua belum bisa menjawab rasa penasaranmu, "Apakah ada orang disetiap titiknya yang saling bekerjasama untuk menyusun warna tersebut, seperti panitia natal yang menyusun lembaran kain warna-warni sebagai hiasan pada pohon natal ?" Lalu kau tersenyum ketika melihat wajahku yang mulai mencoba menerka-nerka jawaban pasti mengenai hal-hal tersebut. "Jangan dipikirin, biarin aja mengalir. Cukup jadikan dirimu seakan-akan pelangi yang datang untuk menghapus kesedihan dari kejahatan dunia yang melukai hidup dengan keindahannya" Itu ucapmu.
Saat itu mentari, hujan dan pelangi mungkin memiliki ceritanya tersendiri. Sampai dimana ketika hari itu terjadi, mereka seakan memainkan peran yang baru, mentari seakan membantu melancarkan proses persiapan, tidak seperti biasanya teriknya yang ingin membunuh. Lalu setelah semua berlalu, hujan datang untuk menyamarkan tangisan dan ketika itu kamu tidak lagi menceritakan apa yang biasanya ingin kau ceritakan seperti dulu. Pelangi juga tidak lupa menutupnya, tetapi pada saat itu seakan tidak berwarna. 
Memang semua cerita memiliki akhirnya masing-masing.

Komentar

Postingan Populer