Kaku
Mungkin, banyak hal di dunia ini yang bisa menimbulkan suatu penyesalan. Keinginan yang tidak terwujudkan sampai penyesalan kepada diri sendiri yang sukar untuk jujur kepada perasaannya. Seperti yang tadi sudah aku sampaikan, aku sulit untuk mengatakan kejujuran-kejujuran tentang rasa. Aku tidak suka untuk menerima suatu penolakan, seperti pecundang bukan. Sebenarnya sesekali aku sudah mencoba untuk memulai. Mulai dari mempersiapkan diri untuk berbicara kepadamu. Setelah aku merasa diri ini siap, aku mulai menyusun kata-kata yang ingin aku sampaikan kepadamu, sebatas sapaan perkenalan, sebab aku tidak mau terlihat kaku dihadapanmu. Lalu selanjutnya aku kembali mempersiapkan hal-hal lainnya, sampai ketika aku bertemu denganmu, semua itu buyar. Apa yang aku takutkan ternyata tercipta. Kurasa coklat yang ada disakuku juga ikut mencair seiring kepercayaan diri ku yang mencair, saking cair diri ini susah untuk melanjutkan beberapa kata setelah "hai" terucap. Pecundang bukan.
Semenjak hari itu, aku hanya berani memandangimu dari jauh. Aku tidak suka jika hal kemarin terjadi lagi, ketika aku memaksa diri ini untuk berani. "Eh, hai juga." dengan balasan seperti itu saja aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seiring berjalannya waktu, aku sudah jarang melihat dirimu di tempat biasa kamu membunuh waktu, menunggu kelas selanjutnya dimulai, sudah sekitar 3 bulan lebih. Kucoba memberanikan diri untuk bertanya keberadaanmu kepada teman-temanmu. Mereka hanya terdiam dan sedikit menahan raut muka, seperti ada yang ditahan.
"Benar, kamu mau tahu dia berada ?" "Kalau iya nanti setelah sesi 4 selesai kita bertemu lagi disini." ucap salah satu dari mereka. Lalu aku kembali melangkahkan kaki setelah ku iyakan tawaran tersebut. Rasa rindu terhadap dirimu kini bertambah raa-rasa penasaran dengan ucapan temanmu tadi. Selepas sesi 4 berakhir, aku langsung bergegas menuju kembali ke tempat tadi. Mereka menunggu, cemas bercampur bimbang, mungkin mereka berpikir aku tidak datang atau datang tapi entah mungkin ditabrak pesawat sehingga aku tidak sampai ke tempat kita janjian untuk bertemu..Kami kemudiaan mulai berjalan dan aku cukup tidak asing mengenai arah kita berjalan, jalan ini menuju tempat orang-orang yang dulunya pernah dicintai dunia menyelesaikan perlombaan hidupnya. "Kamu yakin mau ketemu sama dia ?" ucap temanmu yang ku balas dengan anggukan yang yakin, sambil membantah apa yang sebenarnya sudah aku terka. Kami berjalan melewati beberapa komplek, sampai akhirnya kami tiba disebuah tempat. Mereka hanya terdiam hingga salah satu dari mereka membuka kata "Kamu sudah sampai". Akhirnya aku tahu siapa nama, tempat dan juga tanggal lahirmu, Kezia. Sebenarnya aku sedikit ragu dengan apa yang aku lihat sekarang. Terasa sangat tidak mungkin bahwa secepat ini waktu yang diberikan-Nya kepadamu dan juga kepadaku untuk mengenalmu.
"Kami tunggu didepan ya" Mereka meninggalkanku, sambil beberapa dari mereka mulai meneteskan air mata tapi seakan malu untuk menjatuhkannya dihadapanku. Aku mulai memperhatikan tanda pengenal yang katanya berada dekat dengan kepalamu itu. Tertulis namamu yang sebelumnya aku tidak tahu, telihat samar juga foto didalamnya. Aku sempat tidak mengenalinya, sampai aku melihat lesung pipi yang tercetak diwajahnya. Itu kamu.
Penyesalan dan kesiapan memanglah dua hal yang sering bertabrakan dengan keinginan. Dulu aku menginginkan untuk bisa bertaut dan selalu ada disisimu. Kini ketika aku sanggup berada disebelahmu untuk berbincang, kamu sudah tidak bisa lagi mengucapkan satu buah kata pun, kaku.
Komentar
Posting Komentar