Tentang Aku dan Kau
Kau kembali memandangi langit. Itu sudah kesekian kalinya kau mengalihkan pandangan ketika kita mulai terlalu serius dalam berdialog, lalu kau lempar lagi beberapa kalimat lain seakan kata-kata sebelumnya tidak terlalu penting. Menutupi kejelasan, bahwa hal itu yang sebenarnya ingin kau utarakan.
"Menurutmu bagimana ?"
"Apanya yang gimana-gimana ? Bukannya kamu yang selalu mencoba mengalihkan pembicaraan ?" Jawabku dengan nada yang sedikit meninggi diakhir kalimat. Dan akhirnya kau sadar bahwa aku sudah mulai tidak sesabar diawal pembicaraan.
Apa yang sulit dari sebuah kejujuran kalau memang tidak ada yang kau sembunyikan, kau tutupi. Kalau karena kau tertarik dengannya, aku tidak apa. Aku terima, karena sedari awal kita hanyalah sepasang sahabat. Tidak lebih dan tidak kurang. Walau terkadang perasaan ini dicobai oleh perhatianmu yang membuat aku sedikit tergelincir ke dalam jurang yang dinamakan cinta. Tapi aku mencoba selalu dewasa dengan hal itu, aku sahabat kamu. Kita mungkin selamanya bersama, tapi sukar jika itu perihal saling memiliki.
Aku tidak tahu dengan dirimu, kau terlalu banyak menyimpan misteri tentang rasa-rasa, kau menyimpannya sendiri seakan kamu tahu apa yang terbaik untuk rasa yang telah tumbuh dihatimu. Yang aku tak tahu kau malah terlalu larut di dalamnya.
Terkadang aku juga suka dengan keadaan itu. Dimana kita seakan memang diciptakan untuk saling melengkapi, saling menyatu. Tapi kalau memang itu yang kau inginkan, kenapa tidak sedari awal kita ubah semuanya, mengapa setelah ia datang baru kau menuntut kepastian tentang rasa itu.
"Kamu gimana ?" Kau bertanya lagi, memastikan perasaanku.
Aku dulu memang memiliki perasaan itu, dan itu dulu, sebelum aku bunuh dengan akar-akar logika bahwa kita tidak mungkin menyatu, kau dan aku suatu hal yang berbeda. Sekarang ketika kau menuntutnya, rasa itu sebenarnya masih ada. Yang aku sesalkan bukan karena kau juga memilikinya. Tetapi karena dirimu sendiri yang seakan mudah untuk terjatuh. Dia datang hanya untuk memberimu canda. Yang harusnya kamu lakukan adalah tertawa, bukan jatuh dalam mencinta. Aku kecewa jika itu yang kau pertanyakan. Dan jika memang itu yang kau ingin pertanyakan, aku tidak sungkan untuk merusak persahabat ini. Karena yang aku mau aku selalu bersama denganmu, aku yang harusnya menjagamu, aku dan itu aku. Bukan dia.
Komentar
Posting Komentar