Delusi

Kau selalu menghadirkan tanya setiap kali kita bertemu. Tak luput kala kita beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan kota. Mulai dari pertanyaan yang umumnya terdengar sampai yang terkadang sukar untuk dijawab. Terkadang kita juga hanya sekedar duduk menikmati malam hingga sesekali kau terlelap dibawah cahaya lampu yang tidak terlalu terang, dan kembali terbangun dikarenakan volume perbincangan yang mulai membesar atau sekedar ingin menyalurkan kesenian. Semuanya berjalan baik hingga akhirnya langit mengetahui segala yang kau alami, ia menangis, tak kuasa memikirkan yang terjadi padamu bila menimpa dirinya. Kita bergegas masuk kedalam perteduhan, duduk sambil kembali mencoba untuk tertawa diatas semua itu, setidaknya untuk semalam kita bisa melupakannya. Hujan kembali mereda beriring dengan kita yang kembali keluar dari persembunyian, mencoba mencari setitik bintang dikejauhan. Sedikit sukar mengingat awan diatas masih angkuh untuk bergeser sedikit saja, mungkin ia ingin menunjukkan kegagahannya karena mampu menjadi perantara langit untuk membasahi bumi. Sedikit perbincangan lagi hingga kita memutuskan untuk menyudahinya, kita beristirahat.
Pagi itu kau bergegas melangkahkan kaki menuju bibir laut, menikmati deru ombak ditemani butiran pasir pantai. Sesekali kau mencoba mengatasi dinginnya laut dan coba menenangkannya. Namun benar, terkadang bentuk mengasihi itu berbeda-beda, ia mencoba membelai dan menggapaimu namun yang kau dapat hanya basah disekitar celana dan bajumu. Setidaknya berbalas pikirku kala itu. Sesekali aku tetap memperhatikanmu disela aku merapikan tenda. Di kejauhan tampak jelas sebuah senyum yang hadir menghiasi wajahmu. Kita bersiap untuk kembali, irama petikan gitar menemani perberbincang kita. Kala itu kau melepas kata-kata  yang sampai kini masih sukar untuk ku telaah, apakah hanya sebuah ilusi, buah dari senyummu atau sebuah delusi yang hingga kini aku percayai.
Terlepas dari semuanya itu, aku hanya tak habis pikir dengan dunia ini yang tega menyakitimu.

Komentar

Postingan Populer