Simpati
Cerita lara mengatasnamakan cinta. Terbuai lagi oleh kalimat-kalimat indah, dimana engkau bertindak layaknya seorang pujangga. Merajut kata-kata, seakan semuanya memiliki makna. Meralakan waktu memakan maju dengan tempo yang kian beradu. Beradu dengan habisnya rasa penasaranmu akan diriku. Kembali teringat lagi dikala kau berjuang untuk mampu sekedar mengetahui namaku. Sekedar nama dan berujung sebuah percakapan di media perantara. Kau menyapa dengan kata sapaan yang membuat suasana kian menghangat, terkadang juga sedikit candaan untuk mengimbangi hari yang kian serius menghantam tubuh ini. Kau membuatnya seakan bermakna, seakan semuanya adalah apa yang Sang Pencipta kehendaki untuk terjadi. Tapi apa ? Kini semua sudah berubah. Kini dirimu menghilang, tanpa meninggalkan satupun arah untuk setidaknya dapat kugunakan untuk mencari keberadaanmu. Yang semula hangat berubah menjadi sebuah kehampaan. Beriring dengan datangnya hempasan-hempasan kenestapaan. Kau membuatku kembali mencintai kepedihan. Sayat-sayatan dihati kini bertambah kembali, seakan menjadi dekorasi penanda sebuah hati. Hati yang terluka karena sempat memberikan simpati.
Komentar
Posting Komentar