Perlombaan
Sejauh ini hal terlucu yang belum bisa ku pahami ialah berlomba untuk mendapatkan sebuah piala. Banyak bentuk-bentuk hidup yang dikemas dalam perlombaan, seperti kejuaraan sepak bola, atau bahkan perlombaan debat. Dengan tujuan mendapatkan sebuah piala. Sesama manusia bahkan saling menyikut, tak sedikit yang bahkan memanfaatkan peran serta binatang. Yang dulunya saling mengenal, seakan hilang ingatan ketika harus beradu diantara nilai menang dan kalah. Tidak hanya yang sebatas kenal, bahkan yang sudah seperti saudara pun akan lupa. Tidak masuk akal, itu pendapatku. Gilanya lagi, komunikasi yang mungkin dulu terjalin baik bisa saja rusak, kecanggungan antara menang dan kalah begitu dahsyat. Sang pemenang bisa saja beranggapan bahwa sang kalah yang terlalu banyak alasan dan sibuk membela diri dengan argumennya. Sang kalah bisa saja berpandangan pertandingan yang dilakukan tidak adil. Masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan hadir, dan itu mempertebal kecanggungan yang ada. Mungkin kalian akan merasa ini terlalu berlebihan, tapi itulah fakta yang terjadi. Aku pun pernah berada di posisi tersebut, jadi kalian tidak perlu membangun asumsi bahwa aku menulis kata-kata ini sebagai naif belaka. Aku pernah mempersiapkan diri dengan baik, harapku bisa memangkannya. Tetapu kali itu aku harus gagal. Semenjak itu aku mulai menarik diri dari kemungkinan-kemungkinan perlombaan yang akan terjadi. Bukan karena tidak ingin berjuang, tapi bagiku tidak ada yang lebih bernilai dari sesuatu kepastian tanpa harus bertaruh dengan apa yang akan terjadi bukan ?
Tapi jika boleh jujur, semua ini bukanlah tentang perlombaan dan piala.
Komentar
Posting Komentar