Jejak di Langit Takdir

 Obrolan itu mengalir seperti sungai yang tak terbendung, tapi ada titik di mana arusnya terasa lebih dalam, menyentuh dasar yang selama ini terkubur. Setiap tawa, setiap kata yang meluncur, menjadi riak yang tak bisa disembunyikan, meskipun ia berusaha menghalau mereka dengan tepian yang rapat.

Wajah itu tidak memancarkan cahaya bintang, namun tatapannya seperti cahaya senja yang perlahan merambat, menyentuh ruang hati yang jarang dijamah. Ada sesuatu yang tertinggal di antara mereka, seperti bayang-bayang yang tak lekang oleh waktu—jarak yang bukan hanya diukur oleh angka, tetapi oleh kenangan yang berbisik di setiap langkah.

Dalam kebersamaan yang terasa singkat itu, sebuah pertanyaan muncul, seperti angin yang menerpa tanpa suara: apakah ini jejak yang sudah tertulis di langit-langit takdir, atau hanya bayangan yang terbawa oleh kesalahan arah angin?

Komentar

Postingan Populer