Ranting yang Tak Lagi Menyentuh Langit

Bayanganku di cermin tampak pudar, seperti lukisan yang warnanya perlahan luntur diguyur waktu. Di genggaman, secercah cahaya redup memantulkan baris-baris kata yang dingin, sepi, nyaris tanpa nyawa. Ia tak pernah benar-benar menolak, tapi juga tak memberi ruang untuk mendekat, membiarkanku terombang-ambing di antara harapan dan keraguan. Mungkin ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang tanah retak tempat aku berpijak, kerangka yang dulu tegak kini rapuh dimakan waktu, akar yang kupunya tak tumbuh di tanah yang subur. Dan aku takut, jika terus membiarkan ini, angin akan membawaku pergi sebelum sempat meraih cahaya.

Komentar

Postingan Populer