Tapak yang Tak Terjangkau

Pertemuan pertama tak lebih dari hembusan angin yang melintas tanpa menoleh—sekilas menyentuh, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak di debu waktu. Kata-kata mengalir seadanya, tak lebih dari riak kecil di permukaan yang tenang, seperti ombak yang mencium pasir lalu surut sebelum sempat meninggalkan kesan. Aku tak memberi arti, tak menyisipkan harap, membiarkannya berlalu seperti senja yang meredup tanpa janji untuk kembali.
Namun, langkah yang kukira hanya berputar dalam lingkarannya sendiri justru membawaku kembali menemuinya—seolah ada garis halus di antara kami yang tak kasat mata, tetapi perlahan mulai terasa.

Di bawah langit yang tenang, pinta lebih dulu mengulurkan isyarat, menapaki langkah dalam hening yang suci. Di antara barisan yang tunduk dalam doa, kami berada di tepian yang sama—hanya sehela napas yang menjadi batas, namun tetap terasa seperti dua garis yang enggan saling bersinggungan. Sesekali, di antara lautan doa, ada detik-detik yang terasa berbeda—seperti angin lembut yang menyapa tanpa suara, seperti ombak kecil yang menyentuh tepian, lalu segera kembali ke laut.

Usai segalanya, tapak kami tak langsung berpisah. Ada jeda yang kami pilih untuk diisi, sejenak melabuhkan waktu di atas secangkir kehangatan. Kata-kata berlarian di antara tawa yang lirih, seolah dunia tengah mengecil, menyisakan ruang hanya untuk dua orang yang sedang menikmati kebersamaan tanpa perlu menamai perasaan.

Komentar

Postingan Populer